Semalam sebelum Papa meninggal,Papa marah sama aku karena nyabut kabel telepon rumah dan akhirnya buat Papa ga bisa telpon rumah untuk buka pintu. Malam itu Papa marah sejadi-jadinya sama aku dan seperti biasa aku hanya bisa terdiam,Mama yang ngebela aku,Mama bilang “Yaudah lah gitu aja kok diributin,nanti masuk RS lagi aja” Aku juga bilang “Yaudah lah biarin aja Ma,emang mau RS lagi kali”. Saat itu aku maupun Mama ga bermaksud jahat dengan bilang gitu,kami cuma takut Papa akan kambuh lagi kalau marah-marah terus seperti itu. Saat sahur karena saat itu lagi puasa,aku tidak berani bertatap muka dengannya,dan akhirnya kami memang tidak bertemu sama sekali karena penyakit DM Papa yang mengharuskan Papa untuk sahur mendekati waktu imsak jadi kami tidak bisa makan sahur bersama. Paginya pun aku masih takut untuk bertemu Papa,akhirnya aku cuma bisa diam dikamar Mbok. Menjelang siang,aku mendengar Papa mulai mengeluh sama Mama karena kepalanya yang pusing. Awalnya,Mama mengira itu adalah efek karena Papa memaksakan untuk puasa dihari pertama setelah operasi jantungnya dilaksanakan. Papaku menderita banyak penyakit seperti DM dan akhirnya berujung pada komplikasi jantung koroner,kerusakan saraf mata bahkan juga pernah hampir didiagnosa gagal ginjal. Sejak masih dirawat,Papa memang bilang ia sangat ingin sekali puasa karena ia merasa rugi tiap kali bulan puasa pasti selalu ada saat dimana ia dirawat di rumah sakit karena memang penyakitnya yang parah. Dan aku hanya bisa menyemangati Papa agar ia cepat sembuh dan akhirnya bisa menunaikan puasa bersama-sama. Hari itu Papa bersikeras mau puasa padahal ia belum benar-benar pulih,dan saat ia mengeluh pusing itu,kami berpikir mungkin itu terjadi akibat kadar gula darah Papa yang turun dan kami memaksanya untuk segera berbuka,tapi ia tidak mau,ia bilang kapan lagi Papa akan puasa. Saat itu,kami tidak merasa ada yang janggal,bahkan Papa sempat meminta tolong padaku untuk membelikan alat tes gula darah,namun tidak jadi karena ternyata supirnya telah membelinya. Papa dan Mama segera bergegas ke kamar mandi karena Papa ingin sekali membersihkan badannya agar kemudian ia bisa berwudhu dan solat karena saat itu sudah masuk waktu Dzuhur. Sesaat setelah itu,aku mendengar bunyi jatuh yang cukup keras dan Mama langsung memanggilku,saat aku menghampiri Mama,aku melihat badan Papa yang sudah jatuh tersungkur dilantai kamar mandi,Mama langsung berteriak histeris sejadi-jadinya,aku langsung mencoba untuk menyadarkan Papa dengan menekan ibu jarinya,namun yang aku dengar malah suara mendengkur dari mulut Papa,yang aku tau jika terdengar suara mendengkur seperti itu maka bisa dipastikan kalau orang itu sudah meninggal. Saat kami membaringkannya (karena Papa jatuh dalam keadaan tertelungkup seperti akan sujud dan sepertinya menghadap kiblat,Subhanallah),mulut dan wajah Papa sudah membiru,namun aku yakin Papa masih bisa diselamatkan akhirnya kami membawa Papa ke RS terdekat,dan di RS itulah kami mendapat kepastian kalau Papa sudah tiada. Aku yang tadinya tidak mau menangis,langsung tidak bisa membendung airmataku sendiri karena aku belum bisa menerima kepergian Papa dan aku belum meminta maaf kepadanya tentang yang terjadi malam sebelumnya.
Sampai sekarang aku masih sering bertanya pada diriku sendiri apakah ia masih marah padaku,apakah Papa mendengar permintaan maafku,apakah ia sudah memaafkanku. Semua pertanyaan itu terus bersarang dikepalaku.
Jauh dilubuk hatiku yang terdalam,aku benar-benar berharap Papa mendengar permintaan maafku sesaat setelah ia dinyatakan meninggal.
Sekarang aku tidak ingin mengulang kesalahan itu lagi pada Mama,aku akan mengatakan permintaan maafku tiap kali aku melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak,aku akan selalu melakukan itu,aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi,aku tidak ingin aku meminta maaf setelah orang itu dinyatakan tiada.