Saya muslim dan seorang perempuan yang dulunya berpenampilan sangat tidak rapi dan cenderung cuek. Kemana-mana selalu memakai kaos tangan pendek dan juga celana pendek atau celana panjang serta rambut yang juga selalu dikuncir dengan gaya yang sama setiap harinya. Sampai pada suatu saat saya sudah bosan dengan penampilan saya dan mencoba untuk tampil lebih feminin dari sebelumnya,namun ternyata saya tidak cukup berani dan tidak percaya diri.
Saya dikelilingi oleh orang tua,keluarga,dan juga teman-teman perempuan yang sudah terlebih dulu berjilbab. Namun,ternyata itu semua belum cukup menyadarkan dan ‘mendorong’ saya untuk berjilbab. Berbagai macam alasan saya utarakan atas keputusan saya untuk tidak berjilbab. Dari mulai yang karena saya belum cukup baik dalam hal tingkah laku maupun ibadah,saya takut gerah kalau nanti saya berjilbab karena saya memang gampang berkeringat,baju muslim saya hanya sedikit,sampai ke saya belum siap jika harus menikah secara Islam dimana calon mempelai hanya dikenalkan melalui biodata masing-masing kemudian bertemu untuk melihat wajah masing-masing lalu akhirnya menikah (yang terakhir ini,terlalu saya lebih-lebihkan,maklum hanya pernah mendengar saja). Semua alasan tadi memang terbukti berhasil membuat hati saya tidak tergerak untuk memakai jilbab dan juga berhasil membuat saya cukup cuek tampil dengan gaya yang apa adanya. Setiap ada yang menanyakan kepada saya tentang kapan saya akan menyusul Mama saya untuk berjilbab,saya selalu jawab dengan ‘ya insyaAlloh doain aja’ atau ‘nanti aja ah belum siap’.
Sampai pada suatu saat,ada momen dimana saya diharuskan memakai jilbab karena acara yang akan saya hadiri adalah acara yang bersifat Islami yaitu manasik untuk keberangkatan umroh. Ya,atas seizin Allah SWT dan dengan rezeki yang dia berikan,kami (saya,Mama,dan adik saya) berkesempatan untuk datang memenuhi panggilanNya pada bulan Juli yang lalu. Saya yang kala itu memang belum berjilbab,dengan tenangnya memakai baju yang tidak menutup sampai pergelangan tangan dan dipadukan dengan jilbab yang senada. Saat itu,saya tidak merasa ada yang salah dengan diri saya,karena saya pikir saya memang belum benar-benar berjilbab jadi tidak apa kalau ada bagian tubuh saya yang terlihat,toh itu juga cuma sebagian pergelangan tangan saja. Jilbab itu terus saya pakai sampai akhir acara dan langsung saya buka sesampainya saya di mobil untuk perjalanan pulang. Saya membuka jilbab itu karena saya kegerahan sehingga membuat saya agak tidak nyaman kalau harus menggunakan jilbab yang basah karena keringat.
Hari-hari menjelang keberangkatan umroh pun tiba. Saya mulai panik karena jumlah baju muslim saya masih belum cukup untuk digunakan selama disana,dan saya pun tidak memiliki jilbab yang pada akhirnya saya meminjam jilbab Mama untuk saya pakai selama disana.
Saat hari H,kami jamaah umroh diwajibkan untuk memakai seragam yang telah diberikan lengkap dengan jilbabnya. Karena jilbab yang diberikan travel terlalu terasa ketat di kepala dan leher saya maka saya pun seringkali membuka dan memakai jilbab ini. Saya pun akhirnya berganti jilbab dengan yang lebih nyaman didalam pesawat. Saya sadar selama dalam perjalanan umroh ini pasti saya harus terus menggunakan jilbab jadi saya mulai harus membiasakan untuk tidak melepas pasang jilbab di sembarang tempat. Pikiran-pikiran saya tentang menggunakan jilbab pasti akan terasa gerah dan tidak nyaman ditengah iklim gurun disana sama sekali tidak terbukti. Cuaca disana memang panas dan kering namun banyak angin yang berhembus jadi meskipun memakai jilbab akan tetap terasa adem. Saya semakin terbiasa dengan kombinasi cuaca dan berjilbab selama disana. Saya tidak lagi merasakan apa yang saya pikir akan saya rasakan kalau saya harus berjilbab dari pagi hingga malam hari. Rasa gerah,tidak nyaman dan berbagai macam pikiran lain mengenai memakai jilbab hilang begitu saja selama disana. Saya bahkan sudah mulai merasa nyaman dan terlindungi dengan memakai jilbab. Rasa yang sangat berbeda dengan yang saya bayangkan saat saya disuruh berjilbab oleh teman saya dan Mama saya.
Hari demi hari pun berlalu,tiba saatnya untuk kepulangan ke tanah air. Selama disana saya memang hanya memakai bergo karena saya tidak mau dipusingkan dengan urusan menata jilbab kain. Selama di pesawat pulang pun saya tetap menggunakan jilbab saya. Yang membuat saya terheran-heran adalah saya masih belum ingin melepas jilbab saya ini ketika sudah berada didalam mobil menuju rumah. Rasa heran ini bercampur dengan rasa tidak nyaman kalau saya harus melepas penutup kepala ini.
Setelah berhari-hari berada dirumah saya terus memikirkan hal tersebut. Kenapa saya merasa tidak nyaman? Kenapa saya ingin terus menutup kepala saya? Kenapa rasanya aneh kalau saya tidak menutup kepala saya? Pertanyaan kenapa ini pun perlahan berubah menjadi ‘Bagaimana’. Bagaimana kalau saya berjilbab? Akan terlihat bagus atau jelek? Bagaimana nanti saya akan berpakaian? Bagaimana jika nanti saya tidak nyaman lalu saya ingin melepasnya?. Semua pertanyaan itu terus menghantui saya selama berhari-hari sejak kepulangan umroh. Hingga pada satu hari,saat Mama mengajak pergi keluar,saya memberanikan dan memantapkan hati untuk mulai menutup kepala saya. Ya, saya mulai berjilbab. Terasa begitu nyaman dan hangat saat saya memakainya. Namun, ternyata hati saya belum cukup yakin untuk berjilbab dan akhirnya membuat saya kembali ke gaya lama saya yaitu tidak berjilbab.
Berhari-hari pergi keluar tanpa jilbab rupanya membuat saya tidak nyaman dan aneh. Setelah mengobrol dengan beberapa teman di kampus dan juga Mama, akhirnya sekali lagi saya kembali memantapkan hati untuk berjilbab ke kampus untuk pertama kalinya. Awalnya memang terasa panas,gerah,ribet dan lain-lain. Namun setelah terbiasa, rasa-rasa itupun perlahan hilang, ya kecuali untuk gerah,karena saya memang gampang berkeringat. Lama-lama semua tergantikan dengan rasa hangat, terlindungi, dan nyaman,sampai sekarang.
Saya memang tidak sepenuhnya mengerti tentang makna serta perbedaan jilbab dan hijab. Yang saya tahu, saya ingin terus istiqomah dalam hal menutup kepala dan aurat ini. Dan saya sungguh merasakan adanya hidayah dari Allah SWT dalam hal ini, karena kalau bukan karenaNya tidak mungkin saya bisa berjilbab sekarang. Dulu, saya termasuk orang yang menganut paham ‘nanti saja kalau sudah menikah’ untuk berjilbab. Namun, nyatanya semua itu langsung mendapat ‘intervensi’ dari Allah SWT dan akhirnya membuat saya malah aneh kalau tidak berjilbab mulai sekarang. Bahkan saya merasa terlambat karena baru memulainya sekarang. Saya hanya berharap supaya tetap dapat menjalankan salah satu perintahNya ini dengan istiqomah. Ibadah saya memang jauh dari sempurna, saya berharap dengan saya berjilbab ini kualitas ibadah saya yang tadinya belum sempurna akan terus memicu saya untuk meningkatkan lagi kesempurnaan saya dalam hal ibadah maupun yang lain detik demi detiknya. Amiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn…..
So,what are u waiting for ladies
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"
Ade n Me