Dulu,waktu masih ada Papa,rasanya seneng banget kalo bisa ngeliat senyum dari Mama dan Papa. Padahal,hal yang aku lakukan belum seberapa,tapi senyum yang mereka kasih untuk menghargai itu udah lebih dari cukup buatku. Mereka tersenyum saat aku berhasil masuk UI,dgn fakultas yang berbeda dari yang mereka pernah masuki,mereka berdua memilih jurusan ekonomi sedangkan aku memang bertekad tidak ingin memiliki gelar yang sama lagi dgn mereka sehingga jadilah aku masuk ke kedokteran gigi. Mereka kembali tersenyum saat aku lulus dan menjadi sarjana kedokteran gigi,padahal gelar sarjana ini hanya gelar semu karena nantinya akan berganti menjadi drg. Namun,senyum yang mereka perlihatkan adalah senyum sangat membuat aku bangga menjadi anak dari mereka. Mereka pun tersenyum kembali saat mereka berdua mendapat kesempatan untuk pergi umroh tanpa biaya sedikitpun karena memang dibiayai oleh saudara kandung Papa. Aku pun saat itu ikut tersenyum bahagia sekaligus terharu,karena aku dengar dengan jelas ketika dulu mereka asik memperbincangkan tentang rencana umroh ini dengan biaya pensiun Papaku. Ya,dulu mereka memang berencana utk umroh dgn uang pensiun dini Papaku. Namun,ternyata اَللّهُ lebih sayang sama mereka sehingga berangkatlah mereka ke Tanah Suci tanpa biaya sepeserpun. Alhamdulillah….
Lalu,sebuah musibah terjadi. Kami (aku,Mama,dan Ade Elis) kehilangan Papa yang begitu kami cintai. Meskipun kadang Papa bersikap menyebalkan tapi tetap saja itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk tidak menangis saat beliau pergi. Kami kehilangan panutan,imam dalam keluarga,sekaligus pencari nafkah satu2nya untuk keluarga kami. Kami lemas,selama berbulan2 senyum yang kami perlihatkan hampir selalu diiringi dgn isak tangis. Kami baru benar2 bisa tersenyum dgn baik di masa2 sekarang ini. Kami benar2 merasa kehilangan,rasanya seperti ada lubang yang sangat besar dalam hidup kami. Namun,rupanya اَللّهُ telah merencanakan sesuatu yang sangat diluar dugaan. Setelah Papa meninggal,kami diberi kesempatan utk berlibur dan juga menunaikan ibadah umroh. Hal yang dari dulu selalu Papa utarakan sambil disertai kalimat ‘Nanti ya kalo kita punya uang’.
Sekarang,disaat Papa sudah tiada,hanya Mama lah sumber semangatku. Kemarin saat di sumpah dokter gigi,aku hampir tidak bisa menahan air mata yang selalu ingin keluar tiap kali aku melihat para calon drg bersama dgn orang tua mereka yg masih lengkap berfoto dan mempersembahkan karangan bunga. Seharusnya,saat itu aku juga bisa melihat Papa dan Mama tersenyum. Namun,takdir berkata lain,saat itu hanya ada Mama,Nenek dan Ade Elis yang tersenyum. Tapi itupun sudah cukup bagiku. Alhamdulillah… Yang terpenting sekarang adalah aku ingin bisa membuat senyuman tulus itu ada kembali di wajah Mama yang sejak Papa meninggal,aku jarang melihatnya lagi. Semua yang aku lakukan sekarang demi membuat Mama tersenyum. Apapun akan kulakukan demi melihat wajahnya penuh dgn senyuman kembali. Sehingga saat aku melihat wajahnya,aku juga bisa tersenyum bangga. Bangga telah menjadi anaknya,bangga telah dididik olehnya,bangga telah sering mendapat omelannya demi kebaikanku dan bangga menjadi anak dgn single parent. My mom is my fighting spirit. Kakak sayang Mama *peluk Mama yang kenceng* (secara kalo dilakukan di dunia nyata pasti Mama udah keheranan sendiri ama tingkahku ini,hehe
)